Harus Coba Kuliner Ini Saat Liburan ke Korea


Seakan tak ada habisnya pembahasan Korea sebagai destinasi liburan. 

Selain tempat wisata, Negeri Gingseng ini pun dikenal dengan kulinernya yang beragam. 

Menu seperti tteokboki atau bibimbab mungkin sudah tak asing lagi untuk Anda.

Ingin coba menantang adrenalin dengan mencicipi kuliner aneh dan tak biasa dari Korea? Yuk, coba beberapa menu berikut ini seperti yang telah dirangkum dari berbagai sumber, Selasa (17/1/2017).

1. Beondegi
Menu satu ini akan dengan mudah Anda temukan di jajanan kaki lima atau supermarket. 

Jika dilihat sepintas, Anda pasti akan mengira ini adalah kacang rebus. 

Padahal, ini adalah larva ulat yang dikukus. Bagi masyarakat Korea, beondegi adalah camilan lezat bertekstur kenyal dengan rasa yang gurih. 

Pedagang yang menjual menu satu ini selalu ramai dikunjungi para wisatawan. Berminat untuk mencicipinya?

2. Sannakji
Anda mungkin sudah tak asing dengan menu satu ini. 

Sebab, di media sosial banyak sekali yang mengunggah tantangan makan sannakji. 

Ya, sannakji adalah menu gurita yang disajikan hidup-hidup di piring Anda. 

Terlihat menjijikkan, bukan? Namun, orang Korea tak menganggapnya aneh. 

Gurita yang dihidangkan adalah yang berukuran kecil agar muat dimasukkan secara utuh ke dalam mulut.

Agar lebih enak, sannakji dihidangkan bersama saus, biji wijen, kimchi, dan daun bawang. 

Jika tak berani memakan gurita yang utuh, Anda bisa meminta penjual untuk memotongnya dalam ukuran kecil. 

Ingat, harus mengunyah sannakji hingga teksturnya benar-benar lembut ya. 

Jika tidak, tentakelnya justru bisa menyangkut di tenggorokan dan mengganggu jalan pernapasan Anda.

3. Dalkbal
Bagi orang Indonesia, tak ada yang aneh dengan menu satu ini. 

Sebab, kita pun sama-sama sering mengkonsumsinya. Namun tidak dengan turis mancanegara lainnya. 

Dalkbal ini tak lain adalah ceker atau kaki ayam. 

Dalkbal ini disajikan dengan cara dikukus, dipanggang, atau digoreng. 

Walaupun terlihat menjijikan, Anda tak akan bisa menolak kelezatan ceker ayam yang telah dibaluri saus yangnyeom bercita rasa pedas.

Tersedia promo tiket pesawat dan hotel untuk Anda yang berencana libur ke Korea. 

Akan ada diskon hingga jutaan rupiah setiap harinya. 

Ini Kuliner 24 Jam yang Ada di Bandung


Membahas kuliner Bandung memang tidak ada habisnya. 

Kota satu ini memang dikenal sebagai surganya para wisatawan yang hobi makan. 

Jangan takut kelaparan saat melancong ke Kota Bandung, sebab ada beberapa pusat kuliner di Bandung yang buka 24 jam non-stop.

Berikut daftar pusat kuliner di Bandung yang buka 24 jam nonstop versi Reservasi.com yang disusun Kamis (19/01/2017).

1. Rumah Makan Ampera 
Rumah makan yang berkonsep prasmanan ini akan dengan mudah Anda temui di wilayah Bandung. 

Restoran ini khusus menyediakan makanan khas Negeri Pasundan. Nuansa Sunda yang kental sangat terasa saat berada di restoran ini. 

Berbagai menu istimewa disajikan di atas kendil tanah liat beralas daun pisang. 

Anda bisa mengambil sendiri berbagai menu favorit pilihan sesuai dengan banyaknya porsi yang biasa dimakan. 

Salah satu menu andalan di restoran ini adalah ikan gurame gorengnya yang gurih dan renyah. 

Rumah makan ini berlokasi di Jalan Soekarno Hatta nomor 394, Bandung.

2. Warunk Upnormal
Warunk Upnormal adalah satu tempat makan kekinian favorit anak muda. 

Mi instan yang disajikan secara unik, menarik, dan lezat menjadi salah satu menu yang paling dicari pengunjung saat berada di tempat ini. 

Jika tak terlalu suka dengan mi instan, Anda bisa pilih menu lain seperti roti bakar, pisang goreng, atau nasi. Jangan khawatir, semua menu yang ada di tempat ini murah meriah dan tak akan menguras isi kantong Anda. 

Selain sajian kulinernya, yang menyenangkan dari restoran ini adalah pelayannya yang ramah, live music, dan permainan seru untuk para pengunjung yang sedang menunggu pesanannya datang. 

Pariwisata Indonesia Menjadi Kiblat Dunia


Kemenangan Indonesia di ajang World Halal Tourism Awards 2016 dengan menyabet 12 penghargaan dari 16 kategori yang dilombakan, bukan menjadi akhir dari segalanya. 

Kemenangan ini justru menjadi awal untuk membangun ekosistem baru wisata halal di Indonesia, yang akan memberi kontribusi besar bagi pencapaian target kunjungan wisata.

Hal tersebut setidaknya diungkapkan Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam kesempatan jumpa pers akhir tahun 2016, di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Rabu (21/12/2016).

“Ini bukan akhir, ini adalah awal. Indonesia sudah menjadi kiblat wisata halal dunia,” ungkap Menteri Arief.

Senada dengan itu, Kepala Deputi Bidang Pengembangan dan Promosi Pariwisata Nusantara, Esthy Reko Astuty mengatakan, banyak alasan mengapa Indonesia bisa menjadi kiblat bagi pariwisata halal dunia, selain punya banyak atraksi wisata dunia, Indonesia juga sudah dilengkapi dengan amenitas, seperti hotel berstandar internasional.

“Yang penting lagi aksesibilitas, kita juga punya bandara-bandara yang berstandar internasional, domestik juga, tapi kita masih perlu mengembangkan soft infrastrukturnya, yaitu SDMnya,” ungkap Esthy.

Bagi Esthy, produk pariwisata halal merupakan produk wisata alternatif, artinya setiap wisatawan juga bisa memanfaatkan berbagai fasilitasnya. 

Produk wisata halal bukan hanya untuk turis timur tengah, tetapi juga untuk negara-negara seperti China, Korea, dan Jepang yang juga merupakan pasar potensial.

“Kita juga harus ingat, Indonesia sendiri itu pasar wisata halal terbesar, makanya kita harus memanfaatkan ini, karena negara-negara lain juga sudah membangun produk ini. 

Kita punya tim percepatan pembangunan produk wisata halal, ini perlu dijaga, tidak hanya berhenti saat mendapatkan awards. 

Jadi yang penting ke depan implementasinya,” kata Esthy menambahkan.

Dilengkapi Terminal Baru Dukung Pariwisata


Demi meningkatkan pelayanan dan mendukung pertumbuhan pariwisata nasional, sejumlah bandara di bawah pengelolaan PT Angkasa Pura II, tahun ini beroperasi dengan terminal baru yang dilengkapi fasilitas terkini. 

Tercatat ada lima bandara yang beroperasi dengan terminal baru, yaitu Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Bandara Depati Amir di Pangkalpinang, Bandara Silangit di Tapanuli Utara, Bandara Supadio di Pontianak, serta Bandara Soekarno-Hatta yakni Terminal 3 khusus penerbangan internasional.

Dengan dihadirkannya terminal baru tersebut, PT Angkasa Pura II optimis dapat menarik 4 juta kunjungan wisatawan mancanegara, atau meningkat dari tahun lalu yang hanya 3,4 juta wisman.

Presiden Direktur PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin, menurut informasi yang diterima Liputan6.com, Minggu (8/1/2016) mengatakan, Hadirnya terminal baru dengan kapasitas penumpang serta luasnya jauh lebih besar, tentu akan mendukung Angkasa Pura II dalam melakukan ekspansi khususnya dalam bisnis non-aeronautikal. 

Terminal baru juga diproyeksikan dapat meningkatkan konektivitas di dalam negeri maupun dengan dunia internasional.

“Terminal-terminal baru tersebut juga diperkuat dengan infrastruktur digital untuk membawa era baru ke dalam bidang pengelolaan bandara di Indonesia. 

Infrastruktur digital tersebut tentunya bertujuan untuk peningkatan pelayanan, mempermudah serta mempercepat proses bisnis, yang pada intinya guna memaksimalkan kinerja bandara secara keseluruhan. 

Tahun ini kami menyiapkan belanja modal sekitar Rp 9 triliun yang sebagian alokasinya digunakan untuk memperkuat infrastruktur digital,” ungkap Muhammad Awaluddin.

Adapun satu terminal baru telah dioperasikan pada tahun ini, yaitu terminal baru khusus untuk penerbangan internasional di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. 

Terminal ini melengkapi terminal baru untuk rute domestik sehingga total kapasitas di Bandara Husein Sastranegara dapat menampung 3,4 juta penumpang per tahun.

Kemudian pada 11 Januari 2017 akan dioperasikan terminal baru Bandara Depati Amir di Pangkalpinang. 

Terminal ini berkapasitas 1,5 juta penumpang per tahun dan telah dipersiapkan juga untuk dapat melayani penerbangan internasional.


Pada April 2017 ini juga akan dioperasikan Terminal 3 untuk penerbangan internasional di Bandara Soekarno-Hatta. 

Tahap pertama yang akan beroperasi adalah maskapai Garuda Indonesia untuk rute internasional. 

Kemudian, maskapai yang terafiliasi di dalam Skyteam mulai membuka rute internasional di Terminal 3 pada Mei tahun ini, dan nantinya pada Juli seluruh maskapai akan melayani penerbangan internasional di Terminal 3.

Sementara itu pembangunan Terminal Baru Tahap II di Bandara Supadio, Pontianak, saat ini hampir usai dan diperkirakan pada pertengahan tahun dapat mulai dioperasikan sehingga nantinya total luas terminal di bandara tersebut menacapai 32.000 m2 untuk menampung 3,8 juta penumpang per tahun.

Terminal Baru di Bandara Supadio ini diyakini dapat menarik minat maskapai untuk membuka rute-rute baru dari dan ke Pontianak khususnya penerbangan internasional.

Bandara lainnya yang dikembangkan AP II secara keseluruhan adalah Bandara Silangit di sisi darat maupun sisi udara. Bandara Silangit nantinya akan memiliki terminal baru seluas 1.706 m2 untuk menampung 100 ribu penumpang per tahun yang dilengkapi area komersial. 

Sementara itu, di sisi udara landas pacu dikembangkan menjadi 2.650 x 45 meter dengan ketebalan 42 pcn sehingga dapat didarati oleh pesawat Boeing 737-800 Next Generation atau sekelasnya.

“Bandara Silangit diserahkan pengelolaannya ke AP II pada 2012 dan sejak saat itu pula kami berkomitmen melakukan pengembangan bandara ini sehingga nantinya dapat memenuhi standar untuk melayani penerbangan pesawat lebih besar dengan lebih banyak penumpang serta rute langsung tujuan kota-kota besar. 

Tahun lalu rute Jakarta-Silangit sudah dioperasikan dan ke depannya kami berharap akan lebih banyak lagi penerbangan langsung ke kota-kota lainnya,” jelas Muhammad Awaluddin.

Pengembangan Bandara Silangit bertujuan untuk mendukung pariwisata Danau Toba yang dicanangkan pemerintah menjadi destinasi wisata andalan baru.

Adapun pengembangan bandara lainnya dilakukan untuk mendukung pertumbuhan pariwisata, yang tahun ini ditargetkan sebanyak 4 juta wisawatan mancanegara dapat masuk melalui bandara-bandara di bawah pengelolaan AP II. Pada 2016 lalu, traffic penumpang di AP II sudah menembus 94,5 juta penumpang. 

Untuk tahun 2017 ini, traffic penumpang di 13 bandara AP II diperkirakan akan menembus 100 juta penumpang dan volume kargo akan didorong untuk menembus 800 ribu ton.

Wisata Baru Muncul di Yogyakarta


Ada beragam obyek wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta yang bisa dinikmati wisatawan. 

Aria Nugrahadi, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Yogyakarta mengatakan, aneka pilihan destinasi wisata mulai dari daerah pantai, gua, sungai, hingga gunung dapat ditemukan di kota Gudeg ini.

Sehingga banyak wisatawan yang terus datang ke Yogyakarta dan juga mendorong munculnya destinasi wisata baru di Yogyakarta.

"Masih terus bermunculan dan kita fasilitasi baik fisik dan atraksi event. Sehingga daya tarik kita kembangkan terus," katanya di kantor dinas Pariwisata DIY Senin (16/1/2017).

Walaupun ia masih terus mendata berapa destinasi wisata baru yang hadir, namun yang jelas Pemda DIY akan terus fokus mengembangkan destinasi wisata unggulan di kawasan wisata yang sudah ada. 

Sehingga tahun 2017 ini Dinas Pariwisata DIY tetap memaksimalkan beberapa potensi yang perkembangannya signifikan dan juga pengembangan di sekitar kawasan itu baik di dalam maupun di luar kawasan wisata tersebut.

"Gunungkidul fokus kita selain pantai ada di Nglanggeran. di sana ada kampung dekat ngalnggeran di putat itu pusat kuliner di sana. 

Kulonprogo kita concern pengembangan komoditas teh dan kopi. Teh di Ndlinggo dan kopi di suroloyo. 

Selain wiwsta alam ada tambahan teh dan kopi selain juga gebelek dan lain-lain," ujarnya.

Sementara itu di Sleman pihaknya juga memberikan bantuan fasilitas kepada desa wisata Sleman. 

Salah satunya dengan mendirikan parkir unit intermoda, karena destinasi wisata di Yogyakarta banyak yang terpencar dan memiliki masalah akses. 

Sehingga nantinya dari titik itu para wisatawan bisa menjangkau destinasi wisata yang terpencil. 

Selain itu pengembangan destinasi sekitarnya juga akan diperhatikan. 

Seperti kondisi di Tebing Breksi dikaitkan dengan beberapa candi di daerah Prambanan hingga lava bantal.

Ceria Bersama Pesona Belanja Budaya


Menteri Pariwisata Arief Yahya bersama Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo baru saja meluncurkan Solo Great Sale dan Calendar Event Solo 2017, di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jakarta, Senin malam (16/1/2017). 

Mengusung tema “Ceria Bersama Pesona Belanja Budaya, gelaran yang menjadi surga bagi penghobi wisata belanja ini akan berlansung selama sebulan penuh, 1-28 Februari 2017.

Subagyo, Kepala Dinas Perdangan Kota Surakarta kepada Liputan6.com mengatakan, Solo Great Sale tahun ini mengusung konsep pasar tradisional.

Ada sekitar 1.500 tenan warga Solo yang diikutsertakan.

“Itu kita benahi kita tata kemudian kita tampilkan dari sisi kualitasnya, kemudian pelayannya, dan dari sisi harganya, yang terpenting dari sisi kepastiannya, jadi kepercayaan kepada pasar tradisional akan kita tumbuhkan lagi. 

Di situ ada proses tawar-menawar tapi kualitas dan harga bisa diperoleh dengan sebanding,” ungkap Subagyo.

Sementara itu, Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo menjelaskan, Solo Great Sale merupakan upaya untuk menggerakan perekonomian masyarakat dan dunia usuha, termasuk akomodasi, transportasi, agen travel, hingga senra-sentra industri.

“Ini sekaligus komitmen Pemkot Surakarta dan KADIN Kota Surakarta dalam  memperkuat branding dan mendorong iklim bisnis dan investasi yang kondusif bagi pelaku usaha di Surakarta.  

Apalagi bila melihat siklus pergerakan ekonomi dan bisnis yang terjadi di bulan Februari, hampir seluruh sektor usaha mengalami perlambatan (low season) untuk ini  diperlukan stimulasi kegiatan promosi efektif yang  mampu lebih menggeliatkan ekonomi,” kata  FX Hadi Rudyatmo.

Selama digelar sebulan penuh, Solo Great Sale 2017 diproyeksikan menghasilkan transaksi sebesar Rp 200 miliar, atau naik dari capaian tahun lalu yang hanya Rp 125 miliar. 

Kunjungan wisatawan selama acara berlangsung ditargetkan sebanyak 250 ribu orang.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, shopping dan kuliner adalah 45 persen dan 60 persen portofolio pariwisata. 

“Pariwisata itu 60 persen culture, 35 persen nature, 5 persen manmade. 

Dari 60 persen yang culture itu, 45 persen-nya diborong oleh Shopping and Culinary. 

Karena itu Solo Great Sale 2017 ini menjadi sangat strategis,” kata Menteri Arief.

Menteri Arief Yahya juga mengapresiasi penyelenggaraan Solo Great Sale 2017 ini yang diformat untuk upaya mempromosikan dan menarik kunjungan wisatawan ke Kota Solo. 

Mengingat Indonesia menargetkan kunjungan 15 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan pergerakan 265 juta wisatawan nusantara (wisnus) di Tanah Air.

Pariwisata Jadi Penyumbang Devisa Terbesar Indonesia


Indonesia memiliki potensi alam dan budaya yang luar biasa sehingga menjadi aset pengembangan pariwisata nasional. 

Bahkan potensi ini dapat menjadi penyumbang PDB, Devisa dan Lapangan Kerja.

Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah Kementerian Pariwisata, Tazbir dalam Seminar Nasional Olimpiade Geografi Nasional 2017 di Auditorium Merapi Fakultas Geografi UGM mengatakan, wisata menjadi penyumbang devisa yang paling mudah dan murah.

Bahkan menurut Tasbir penerimaan devisa dari sektor ini pun diproyeksi dapat melampaui penerimaan dari sektor-sektor yang unggul saat ini seperti batu bara dan migas.

“Tahun 2020, sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia,” ujar Tazbir Rabu (11/1/2017).

Tasbir menjelaskan ada 10 destinasi wisata yang menjadi prioritas pariwisata Indonesia yaitu :
Danau Toba di Sumatra Utara, 
Tanjung Kelayang, 
Kepulauan Seribu, 
Tanjung Lesung di Banten, 
Borobudur di Jawa Tengah, 
Bromo Tengger di Semeru, 
Mandalika di Nusa Tenggara Barat, 
Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, 
Wakatobi di Sulawesi Tenggara, 
serta Pulau Morotai di Maluku Utara.

10 destinasi ini diharapkan dapat dikembangkan oleh masing-masing stakeholder. 

Sebab diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi serta media dalam mengembangkan potensi wisata. 

Semangat ini, lanjut Tazbir, dikenal juga dengan Indonesia Incorporated.

“Diperlukan sinergi semua pihak, yaitu pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi dan media dalam pengembangan pariwisata nasional,” imbuhnya.

Sementara itu Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Aria Nugrahadi, di wilayahnya ada berbagai tempat wisata termasuk kegiatan wisata berbasis geopariwisata. 

Wisata berbasis geopariwisata menurutnya dapat memperkaya karakter geografi suatu tempat, yaitu lingkungannya, peninggalannya, estetika, budaya dan mensejahterakan penduduknya.

Namun saat ini di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri ada 5 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), yaitu KSPN Kota Yogyakarta, KSPN Merapi-Merbabu, KSPN Karst Gunungkidul, KSPN Pantai Selatan, serta KSPN Prambanan-Kalasan.

“Kelimanya disinergikan dengan KSPN Borobudur yang berada di Jawa Tengah dan juga dengan rencana pembangunan Bandara Baru di Kulon Progo,” imbuhnya.