IBX58914E5E678C7

Bahaya Vape Rokok Elektronik


Rokok elektronik atau vape semakin digemari masyarakat belakangan ini. 

Mereka beralasan merokok vape lebih aman ketimbang rokok konvensional. 

Tapi benarkah vape aman?

Menurut Agus Dwi Susanto, dokter, sekaligus Ketua Divisi Penyakit Paru Kerja dan Lingkungan dari RSUP Persahabatan, mengatakan kandungan sejumlah bahan tertentu juga membuat pemakai vape tidak lepas dari bahaya. 

Hal ini disampaikan Agus dalam acara peluncuran kampanye terkait bahaya rokok berbentuk iklan layanan masyarakat oleh Kementerian Kesehatan RI.

“Walaupun data secara pasti [dari] WHO [World Health Organization/Badan Kesehatan Dunia di bawah naungan PBB] ataupun penelitian di luar negeri yang saat ini menunjukkan untuk penyakit penyakit berbahaya belum banyak, tetapi [dampaknya]sudah mulai bermunculan,” jelas Agus, Jumat (27/1/2017).

Dia menjelaskan, berbeda dari rokok konvensional, vape tidak menghasilkan asap, tetapi uap. Namun, bukan berarti pengguna vape bisa merasa lega. 

Pasalnya, risiko yang ditimbulkan akibat konsumsi vape tidak bisa diangggap enteng.

“Vape itu bukan asap ya, vape itu uap, beda, harus dibedakan. Kalau rokok itu dibakar menghasilkan asap, kalau vape, cairan yang dipanaskan dengan baterai menghasilkan uap. 

Nah, kalau dari sisi kandungan bahayanya sama-sama berbahaya,” katanya.

Dia memaparkan bahaya yang mengintai pengguna vape terletak pada cairan yang digunakan untuk menghasilkan uap setelah proses pemanasan secara elektrik atau menggunakan baterai. 

Cairan ini, diketahui mengandung sejumlah zat karsinogen atau zat yang bersifat menginduksi terjadinya kanker.

Adapun bahan bersifat karsiogeni yang terkandung dalam cairan vape antara lain gliserol dan nikotin nitrosamine. 

Belum lagi, proses pemanasan cairan vape diketahui menlepaskan zat kimia formaldehida yang juga merupakan zat karsiogenik.

“Iya, setiap cairan mengandung kandungan tersebut. 

Menurut data-data WHO, dengan jumlah yang bervariasi, beda-beda, tetapi bahan karsinogen sekecil apapun punya resiko yang harus diperhatikan,” tegasnya.

Celakanya lagi, pihak yang mungkin terjangkit penyakit akibat konsumsi vape bukan hanya penggunanya. 

Sama seperti rokok konvensional, perokok vape pasif atau yang terpapar dan menghirup uap dari vape juga berisiko terkena penyakit ganggguan pernafasan meskipun tidak mengkonsumsi secara langsung.

“Menurut laporan WHO-pun, bahwa perokok pasif untuk vaping, itu sama juga. 

Dia [perokok vape pasif] punya risiko karena uap yang terhisap pun bisa memasukkan bahan berbahaya seperti nikotin radikal bebas maupun karsinogennya,” paparnya.
Share on Google Plus

About Dwi Rian

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment

0 komentar:

Poskan Komentar